Kerajaan Mataram Lama

Posted: 26 April 2012 in Kerajaan di Nusantara


Kerajaan Mataram Lama

Kerajaan Mataram Lama adalah   kerajaan bercorak Hindu dan didirikan sekitar abad ke-8. Kerajaan Mataram Lama terletak di daerah Jawa Tengah yang muncul setelah Kerajaan Holing dengan daerah intinya bernama Bhumi Mataram. Kerajaan Mataram Lama terdiri atas dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan wangsa Syailendra.

 Sumber Sejarah

  • Berita yang mengungkapkan Kerajaan Mataram Lama bersumber dari prasasti Kalasan (778 M), prasasti Karang Tengah (824 M), dan prasasti Argapura (863 M).

a)      Prasasti Kalasan

Menginformasikankan tentang terdesaknya Wangsa Sanjaya ke Utara oleh kedatangan Wangsa Syailendra.

b)      Prasasti Karang Tengah

Mengisahkan tentang Samaratungga dan Pramodyawardhani dari Wangsa Syailendra.

c)      Prasasti Argapura

Menginformasikan tentang Pemerintahan Kayuwangi (Dyah Lokapala) dari Wangsa Sanjaya

Raja – Raja Yang Pernah Memerintah

1)      Sri Maharaja Raka i Mataram Sang Ratu Sanjaya (717 – 746 M)

2)      Sri Maharaja Raka i Panangkaran Dyah Sankhara (746 – 784 M)

3)      Sri Maharaja Raka i Panunggalan/Dharanindra (784 – 803 M)

4)      Sri Maharaja Raka i Warak Dyah Manara (803 – 827 M)

5)      Sri Maharaja Dyah Gula (827 – 828 M)

6)      Sri Maharaja Raka i Garung (828 – 847 M)

7)      Sri Maharaja Raka i Pikatan Dyah Saladu (847 – 855 M)

8)      Sri Maharaja Raka i Kayuwangi Dyak Lokapala (885 – 885 M)

9)      Sri Maharaja Dyah Tagwas (885 M)

10)  Sri Maharaja Raka i Panumwangan (885 – 887 M)

11)  Sri Maharaja Raka i Gurunwangi Dyah Babra (887 M)

12)  Sri Maharaja Raka i Watuhumalang Dyah Jbang (894 – 898 M)

13)  Sri Maharaja Raka i Watukura Dyah Balitung Dharmodya Mahasambu (898 – 913 M)

14)  Sri Maharaja Raka i Daksa (913 – 919 M)

15)  Sri Maharaja Dyah Tulondhong (919 – 924 M)

16)  Sri Maharaja Raka i Sumba Dyah Wawa (924 – 927 M)

Konflik Kerajaan

Pada masa pemerintahan Raka i Kayuwangi (sekitar 856 – 880 M), ditemukan beberapa prasasti atas nama raja – raja lain, Sri Maharaja Raka i Gurunwangi dan Maharaja Raka i Limus Dyah Dewendra. Hal itu menunjukkan bahwa pada saat itu Raka i Kayuwangi bukanlah satu – satunya Maharaja di Pulau Jawa. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, raja sesudah Raka i Kayuwangi adalah Raka i Watuhumalang Dyah Jbang. Raka i Watukura Dyah Balitung yang diperkirakan merupakan menantu Raka i Watuhumalang Dyah Jbang berhasil mempersatukan kembali kekuasaan seluruh Pulau Jawa, bahkan sampai Pulau Bali. Mungkin karena kepahlawanannya itu, ia dapat mewarisi tahta mertuanya.

Pemerintahan Balitung diperkirakan berakhir karena terjadinya kudeta oleh mpu Daksa yang mengaku sebagai asli Wangsa Sanjaya. Dia sendiri kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Dyah Tulondhong. Tidak diketahui pasti apakah proses suksesi ini berjalan damai ataukah melalui kudeta berdarah pula. Dyah Tulondhong akhirnya tersingkir oleh pemberontakan Raka i Dyah Wawa yang sebelumnya menjabat sebagai pegawai pengadilan.

Kehidupan Politik

Seperti kerajaan bercorak Hindu lainnnya, kekuasaan raja di Mataram Lama bersifat mutlak. Namun, ada sejumlah hal menarik menyangkut pemerintahan.

q  Kewibawaan pemerintahan mengalami pasang surut dari satu raja ke raja yang lain. Kerajaan Mataram Lama sempat kuat saat diperintah oleh Sanjaya. Lalu, selama pemerintahan tiga raja berturut – turut, kerajaan ini berada di bawah pengaruh Kerajaan Syailendra, kemudian menguat lagi sejak pemerintahan Raka i Pikatan.

q  Raka i Garung menerapkan strategi perkawinan antara Raka i Pikatan dan Pramodyawardhani untuk melemahkan kekuatan Syailendra. Strategi itu terbukti ampuh menggulinhkan pemerintahan Balaputradewa dan Syailendra.

q  Persaingan politik antara Mataram Lama (Hindu) dengan Syailendra (Buddha) tidak meluas menjadi perseteruan antar agama. Terpeliharanya candi – candi dari kedua agama mengisyaratkan umat dari masing – masing agama dapat menjalankan ibadahnya dengan aman.

Kehidupan Sosial

Kehidupan masyarakat Mataram sangat dilandasi oleh kehidupan religius (Hindu dan Buddha) dan semangat gotong royong. Alasannya, dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit tetap dapat membangun candi dalam jumlah banyak. Selain itu, toleransi beragama dalam Kerajaan Mataram pun telah berkembang baik. Terbukti dari perkawinan Raka i Pikatan yang beragama Hindu dengan Pramodyawardhani yang beragama Buddha.

 

Kehidupan Ekonomi

Kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Lama bersumber pada usaha pertanian karena berada di daerah pedalaman. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pemberian tanah pada para rahib di Kalasan dan pembebasan pajak patapan pu palar di Muntilan. Kedua berita itu menunjukkan bahwa tanah sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Dengan pertanian tersebut, masyarakat Mataram Lama kelihatannya sudah cukup baik tingkat kesejahteraannya. Pada perkembangan berikutnya, Mataram Lama juga mengembangkan kehidupan maritim, yaitu dengan memanfaatkan aliran Sungai Bengawan Solo.

Keruntuhan Mataram Lama

Runtuhnya kekuasaan seorang raja saat itu, sepertinya sudah menjadi tradisi jika bersumber dari konflik perebutan takhta. Saling mengklaim siapa yang lebih berhak, adu kesaktian ( adu kuat dalam duel ), hingga prajurit terkuatlah yang menjadi pemimpin. Tapi dalam sejarah Kerajaan Mataram Lama ini, terdapat versi lain, yaitu runtuhnya kerajaan ini, di sebabkan letusan gunung Merapi. Karena setelah bencana alam itu, pusat kerajaan bergeser ke Jawa Timur. Dan kekuasaan pun di lanjutkan keluarga baru yang bukan dari turunannya Sanjaya ataupun Syailendra, yaitu Dinasti Isanawangsa, yang merujuk pada gelar Abhiseka Mpu Sindok yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s